Kesenian dalam
masyarakat Samin
10 Ajaran Sikep
1. Harus takut kepada diri sendiri
2. Berhati-hati dimanapun ia berada
3. Tidak boleh bertentangan pada ajaran agama
4. Manut ajaran, tepat janji, dan tidak boleh membohongi diri
sendiri dan orang lain.
5. Harus mempunyai agama, semua agama itu baik. Semua agama
memiliki tata agama, tidak boleh membeda-bedakan agama dan suku.
6. Hampir sama dengan ajaran ke 5, ajaran agama tidak boleh
memaksa. Semua aga,ma saling menghormati.
7. Tidak ada orang yang disebut paling pintar, paling hebat,
dan paling benar. Tujuh itu berarti tujuan yang baik untuk mendekatkan diri
kepada siapapun, tidak boleh membeda-bedakan.
8. Mengluweskan gandes bahasamu, olah pekertimu, dan tidak
boleh mengejek orang lain.
9. Orang hidup harus mempunyai budi pekerti yang baik, dan
tidak boleh sombong.
10. Harus percaya dan patuh kepada ajaran nabi atau guru.
Kesenian-Kesenian yang
ada dalam masyarakat suku samin.
1. Tari – Tarian
Terdapat banyak
tari-tarian dalam Suku Samin seperti tari tayub, tari gembyongan dan tari
barongan. Tari tayup, adalah tari pergaulan yang popular bagi masyarakat
Samin.Tarian ini biasanya dilakukan oleh pria yang diiringi gamelan dan tembang
jawa yang dilantunkan oleh Waranggono yang syairnya berisi tentang ajaran dan
petuah. Gelar tayup biasanya diadakan oleh orang yang punya hajad dan biasanya
untuk acara perkawinan atau biasa disebut ‘ngantenan’dan sunatan. Pemain Tari tayup
berasal dari luar desa Klopoduwur Blora, jadi sekarang kalau mau nanggap gelar
tayup biasanya melalui telepon. Selain nanggap gelar tayup, biasanya juga
nanggep karawitan, ketoprak, barongan, tari gamboyang dan ngadroh. Tari Gambyongan
biasanya dimainkan oleh perempuan dan diiringi oleh alat musik yang dimainkan
oleh para lelaki. Tidak ada lagu khusus, jadi biasanya lagu sesuai dengan
permintaan seperti campur sari, dangdut, dll. Ada juga yang namanya ngadroh, Khadroh
itu bukan tarian melainkan seperti nyinden dan diiringi oleh pengiring
laki-laki yang memainkan alat musiknya.
2. Bangunan
Menurut Agus Yono
sebagai filsuf ajaran Samin, bangunan rumah masyarakat Samin disebut sebagai
‘Sikep Rabi’ yang berarti memiliki sikap yang benar-benar menyimbolkan daerah
Samin. Hampir semua masyarakat Samin memiliki bangunan rumah yang sama. Hal ini
disebabkan karena masyarakat samin menganggap semua manusia sama dan sederajat
dimata Gusti Allah. Rumah dibangun secara utuh dan tidak boleh dimodifikasi
secara modern, dan jika tidak menjalaninya maka orang tersebut tidak sesuai
dengan ajaran sikep. Rumah yang beralaskan tanah, tanpa pintu, atap yang utuh,
dan bertembokan kayu jati menjadikan masyarakat Samin tidak berbeda satu sama
lainnya. Tidak ada pintu, karena dalam ajaran sikep diajarkan bahwa manusia
tidak boleh iri satu sama lain dan sikap kejujuran dibuktikan disini. Lantai
yang beralaskan tanah, dalam ajara sikep dijelaskan bahwa Nabi Adam berasal
dari tanah dan manusia berawal dari tanah dan berakhir didalam tanah juga.
Jadi, tanah bagaikan mutiara yang dipuj-puji bag masyarakat Samin.
Selain itu juga
terdapat bangunan tiban yaitu pendopo yang terletak didepan saat kita memasuki
wilayah desa Klopoduwur Blora Samin. Pendopo tersebut digunakan sebagai tempat
berkumpul. Bangunan tersebut dibangun dengan mendapatkan bantuan dari Belanda.
Tidak ada makna khusus dari bangunan tersebut. Didalamnya terdapat
ajaran-ajaran masyarakat Samin.
3. Pakaian
Sebenarnya tidak ada
pakaian khusus yang dipakai masyarakat Samin dikesehariannya. Tetapi ada
pakaian khusus masyarakat Samin khususnya laki-laki dalam menyambut orang-orang
luar masyarakat Samin yaitu dengan memakai baju panjang hitam, celana panjang
hitam dan ikat kepala hitam. Pakaian hitam-hitam ini dalam ajaran sikep
menjelaskan bahwa manusia itu kotor dan tidak memiliki harta karena yang
sempurna dan memiliki segalanya adalah Allah swt. Selain itu, pakaian
hitam-hitam dilambangkan oleh masyarakat Samin sebagai sebuah bentuk bahwa
masyarakat samin tidak butuh disanjung dan diagung-agungkan sebaliknya malah
ingin dijelek-jelekan.
4. Wayang Kulit
Wayang tengul, adalah
kesenian wayang khas Bojonegoro dalam bentuk 3 dimensi dengan diiringi gamelan
pelog atau slendro. Wayang terbuat dari kulit kerbau. Wayang kulit menggambarkan
kehidupan seseorang.Tidak ada cerita khusus dari masyarakat Samin, yang
diceritakan dalam pewayangan adalah cerita-cerita yang biasa diceritakan
misalnya cerita majapahit, pancawala, dandunwacana, bratalaras dll. Dalangnya
pun sekarang biasanya dari luar daerah samin, karena pada desa klopoduwur blora
samin penerus dalang sudah jarang ditemukan. Hal ini dikarenakan, bahwa dalang
tidak diajarkan secara turun-menurun. Biasanya yang mau jadi alang harus
bersekolah dalang, dan biasanya hanya orang-oran yang mampu saja yang
bersekolah karena biayanya mahal. Dan sekolah dalang pun jauh dari blora,
biasanya terdapat diSolo, Jogjakarta, dan Klten Jawa Tengah. Dalam pewayangan
tidak terdapat ajaran Sikep yang dianut oleh masyarakat suku Samin karena takut
menyinggung perasaan orang lain.
5. Kerajinan
Sekarang tidak ada
kerajinan khusus yang dibuat oleh masyarakat amin. Semua barang-barang yang
digunakan adalah barang-barang beli. Dulu, masyarakat Samin membuat kerajinan
sendiri, seperti caping, kain tenun, bangku bilik, meja dan tikar sendiri.
Tetapi sekarang sudah tidak dilakukan lagi karena bahannya sudah tidak ada.
Sejak zaman Soeharto , tanaman pandan sebagai bahan pembuat tikar sudah habis
dan tidak lagi ditanam. Dan sekarang masyarakat samin rata-rata menanam tebu
bukan pandan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar