Rabu, 05 Juni 2013

Kesenian dalam masyarakat Samin


Kesenian dalam masyarakat Samin

10 Ajaran Sikep

1. Harus takut kepada diri sendiri
2. Berhati-hati dimanapun ia berada
3. Tidak boleh bertentangan pada ajaran agama
4. Manut ajaran, tepat janji, dan tidak boleh membohongi diri sendiri dan orang lain.
5. Harus mempunyai agama, semua agama itu baik. Semua agama memiliki tata agama, tidak boleh membeda-bedakan agama dan suku.
6. Hampir sama dengan ajaran ke 5, ajaran agama tidak boleh memaksa. Semua aga,ma saling menghormati.
7. Tidak ada orang yang disebut paling pintar, paling hebat, dan paling benar. Tujuh itu berarti tujuan yang baik untuk mendekatkan diri kepada siapapun, tidak boleh membeda-bedakan.
8. Mengluweskan gandes bahasamu, olah pekertimu, dan tidak boleh mengejek orang lain.
9. Orang hidup harus mempunyai budi pekerti yang baik, dan tidak boleh sombong.
10. Harus percaya dan patuh kepada ajaran nabi atau guru.


Kesenian-Kesenian yang ada dalam masyarakat suku samin.

1. Tari – Tarian
Terdapat banyak tari-tarian dalam Suku Samin seperti tari tayub, tari gembyongan dan tari barongan. Tari tayup, adalah tari pergaulan yang popular bagi masyarakat Samin.Tarian ini biasanya dilakukan oleh pria yang diiringi gamelan dan tembang jawa yang dilantunkan oleh Waranggono yang syairnya berisi tentang ajaran dan petuah. Gelar tayup biasanya diadakan oleh orang yang punya hajad dan biasanya untuk acara perkawinan atau biasa disebut ‘ngantenan’dan sunatan. Pemain Tari tayup berasal dari luar desa Klopoduwur Blora, jadi sekarang kalau mau nanggap gelar tayup biasanya melalui telepon. Selain nanggap gelar tayup, biasanya juga nanggep karawitan, ketoprak, barongan, tari gamboyang dan ngadroh. Tari Gambyongan biasanya dimainkan oleh perempuan dan diiringi oleh alat musik yang dimainkan oleh para lelaki. Tidak ada lagu khusus, jadi biasanya lagu sesuai dengan permintaan seperti campur sari, dangdut, dll. Ada juga yang namanya ngadroh, Khadroh itu bukan tarian melainkan seperti nyinden dan diiringi oleh pengiring laki-laki yang memainkan alat musiknya.
2. Bangunan
Menurut Agus Yono sebagai filsuf ajaran Samin, bangunan rumah masyarakat Samin disebut sebagai ‘Sikep Rabi’ yang berarti memiliki sikap yang benar-benar menyimbolkan daerah Samin. Hampir semua masyarakat Samin memiliki bangunan rumah yang sama. Hal ini disebabkan karena masyarakat samin menganggap semua manusia sama dan sederajat dimata Gusti Allah. Rumah dibangun secara utuh dan tidak boleh dimodifikasi secara modern, dan jika tidak menjalaninya maka orang tersebut tidak sesuai dengan ajaran sikep. Rumah yang beralaskan tanah, tanpa pintu, atap yang utuh, dan bertembokan kayu jati menjadikan masyarakat Samin tidak berbeda satu sama lainnya. Tidak ada pintu, karena dalam ajaran sikep diajarkan bahwa manusia tidak boleh iri satu sama lain dan sikap kejujuran dibuktikan disini. Lantai yang beralaskan tanah, dalam ajara sikep dijelaskan bahwa Nabi Adam berasal dari tanah dan manusia berawal dari tanah dan berakhir didalam tanah juga. Jadi, tanah bagaikan mutiara yang dipuj-puji bag masyarakat Samin.
Selain itu juga terdapat bangunan tiban yaitu pendopo yang terletak didepan saat kita memasuki wilayah desa Klopoduwur Blora Samin. Pendopo tersebut digunakan sebagai tempat berkumpul. Bangunan tersebut dibangun dengan mendapatkan bantuan dari Belanda. Tidak ada makna khusus dari bangunan tersebut. Didalamnya terdapat ajaran-ajaran masyarakat Samin.
3. Pakaian
Sebenarnya tidak ada pakaian khusus yang dipakai masyarakat Samin dikesehariannya. Tetapi ada pakaian khusus masyarakat Samin khususnya laki-laki dalam menyambut orang-orang luar masyarakat Samin yaitu dengan memakai baju panjang hitam, celana panjang hitam dan ikat kepala hitam. Pakaian hitam-hitam ini dalam ajaran sikep menjelaskan bahwa manusia itu kotor dan tidak memiliki harta karena yang sempurna dan memiliki segalanya adalah Allah swt. Selain itu, pakaian hitam-hitam dilambangkan oleh masyarakat Samin sebagai sebuah bentuk bahwa masyarakat samin tidak butuh disanjung dan diagung-agungkan sebaliknya malah ingin dijelek-jelekan.
4. Wayang Kulit
Wayang tengul, adalah kesenian wayang khas Bojonegoro dalam bentuk 3 dimensi dengan diiringi gamelan pelog atau slendro. Wayang terbuat dari kulit kerbau. Wayang kulit menggambarkan kehidupan seseorang.Tidak ada cerita khusus dari masyarakat Samin, yang diceritakan dalam pewayangan adalah cerita-cerita yang biasa diceritakan misalnya cerita majapahit, pancawala, dandunwacana, bratalaras dll. Dalangnya pun sekarang biasanya dari luar daerah samin, karena pada desa klopoduwur blora samin penerus dalang sudah jarang ditemukan. Hal ini dikarenakan, bahwa dalang tidak diajarkan secara turun-menurun. Biasanya yang mau jadi alang harus bersekolah dalang, dan biasanya hanya orang-oran yang mampu saja yang bersekolah karena biayanya mahal. Dan sekolah dalang pun jauh dari blora, biasanya terdapat diSolo, Jogjakarta, dan Klten Jawa Tengah. Dalam pewayangan tidak terdapat ajaran Sikep yang dianut oleh masyarakat suku Samin karena takut menyinggung perasaan orang lain.
5. Kerajinan

Sekarang tidak ada kerajinan khusus yang dibuat oleh masyarakat amin. Semua barang-barang yang digunakan adalah barang-barang beli. Dulu, masyarakat Samin membuat kerajinan sendiri, seperti caping, kain tenun, bangku bilik, meja dan tikar sendiri. Tetapi sekarang sudah tidak dilakukan lagi karena bahannya sudah tidak ada. Sejak zaman Soeharto , tanaman pandan sebagai bahan pembuat tikar sudah habis dan tidak lagi ditanam. Dan sekarang masyarakat samin rata-rata menanam tebu bukan pandan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar